Monday, November 23, 2015

Bau Badan, Sinyal Tanda Penyakit


 
Image: source
Bau badan semua orang punya, beberapa menggangap bau badan ini bukanlah sebuah masalah. Namun beberapa orang kini mulai mempertanyakan jika bau badan yang aromanya sudah kelewat batas, tak umum dan mengganggu indera penciuman.

Memang beberapa pakar kesehatan telah menyebutkan, ada hubungan bau badan sebagai bentuk sinyal jika seseorang menderita penyakit tertentu. Misalnya saja penderita diabetes kadang-kadang memiliki napas yang berbau seperti apel busuk atau aseton dan bau badan karena keringat aromanya menyengat.

Pernah uji coba dilakukan oleh Karolinska Institutet yang berada di Swiss, dibawah pimpinan  Mats Olsson dan timnya, mencoba membuktikan bahwa manusia dapat mencium bau penyakit pada seseorang yang sistem kekebalannya sangat aktif hanya dalam beberapa jam setelah terpapar racun.

Untuk membuktikannya, delapan orang sehat direkrut untuk disuntik dengan lipopolisakarida (LPS) yaitu racun yang dikenal meningkatkan respon imun atau larutan garam (sebagai pembanding). Para relawan mengenakan t-shirt ketat untuk menyerap keringat selama 4 jam berikutnya. Para relawan yang disuntik dengan LPS menghasilkan respon imun yang nyata, sebagaimana dibuktikan oleh peningkatan suhu tubuh dan kadar sitokin (molekul sistem kekebalan).

Sedangkan sebuah kelompok terpisah yang terdiri dari 40 peserta diminta untuk mencium sampel keringat. Secara keseluruhan, mereka menilai t-shirt dari kelompok LPS memiliki bau yang lebih tajam dan tidak menyenangkan dibandingkan t-shirt kelompok larutan garam. Mereka juga menilai t-shirt dari kelompok LPS memiliki bau tidak sehat.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara aktivasi kekebalan dan bau badan setidaknya sebagian ditentukan oleh kadar sitokin dalam darah mereka yang terpajan LPS. Artinya, semakin besar respon kekebalan peserta, semakin tidak sedap bau keringat mereka. Menariknya, dalam uji kimia para peneliti tidak menemukan perbedaan dalam jumlah keseluruhan senyawa berbau antara kelompok LPS dan kelompok pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa pasti perbedaannya terdapat dalam komposisi senyawa berbau tersebut.


Hasil uji coba ini meski hanya sekedar mendeteksi hubungan antara bau badan dengan kemungkinan ada penyakit yang mengikutinya. Bisa dikatakan ini adalah sebuah temuan yang berharga karena mampu menunjukkan adaptasi penting yang memungkinkan kita untuk menghindari penyakit berbahaya. Dan kembali menekankan pentingnya langkah pencegahan terhadap penyakit lebih baik dari pada pengobatan.

0 comments:

Post a Comment